MENTERTAWAKAN KESEDIHAN KITA

by - 10:07 PG




Saya punya kelemahan sejak kecil yang waktu itu sulit saya hilangkan, yaitu bisa membaca kesedihan orang lain. Saya bener2 tersiksa banget. Bayangkan saja, saat mereka tertawa ngakak...eee saya justru memandanginya dengan perasaan belas kasihan. Deritanya tampak over, levelnya tinggi. Mereka pun menatap saya balik:
"Ada apa denganmu, No?"
Saya jadi malu!
Di usia remaja saya bahkan pernah berupaya menolak keras linuwih saya ini dan lewat bantuan teman ingin membuang jauh2, namun saya malah hampir terguncang. Makanya sejak itu saya biarkan saja .....nyantai lah dan kemudian saya menemukan pemecahannya yaitu bila saya nggak kuat lagi atas apa yang saya lihat, maka saya dekati orangnya, lalu saya pura2 mbaca garis tangan dia. Dan diapun terkagum2. Bengong, bagaimana saya tahu? Kalau sudah begitu mereka saya ajak mentertawakan kesedihan mereka, rada lega saya. Plong! Namun sayang, biasanya dia ngember pada teman2nya dan yang terjadi saya terpaksa disuruh membaca tangan mereka jugak....ngawurisme pun terjadi....wkkwkkk
Saya baca masa lalu, bukan masa depannya.
Tapi luar biasa bila saya inget, udah ribuan tangan orang lo yang saya baca, dan itu lebih membuat saya semakin paham muasal kesedihan mereka. Namun cara itu sudah lama saya tinggalkan.....saya menemukan cara lain.....lagian saya takut dosa dan ngeri juga dikatain peramal partikelir!!! Hehhe...
Soalnya banyak yang suka usil pingin tahu gimana masa depannya?? Hadeww......masa depan itu bukan diramal, tapi direkayasa, bok. Tak ada orang lain yang bisa menebak-nebak masa depan kita. Soalnya masa depan itu dibuat oleh diri kita sendiri, bukan diteropong. Masak baru dibuat artinya belum jadi kok bisa dibaca. Ngawurkan! Kecuali kita dikasih ramalan dan kita percaya terjadi, ya terjadi bener....wong itu seperti proposal yang dibuat orang dan kita setujui. ya terjadilah! (baca tulisan saya yang sebelumnya).
Alhamdulillahnya, linuwih itu makin lama makin hilang.....saya biasa2 aja sekarang melihat orang, bro!
Nah, firman Allah لا يكلف الله نفساً إلا وسعها , bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya (Al-Baqarah: 286). Adalah kunci rahasia bahwa sebetulnya tak perlu yang namanya kesedihan itu. Jangan bersedih berlebihan pokoknya....toh semuanya sudah diukur Allah porsinya kita. Jadi kita pasti kuat alias mampu menanggung derita itu dan nggak perlu ada kesedihan yang berlebihan itu. Wong mampu kok.....ngekek aja (maksudnya diterima aja). Harus kuat!
Nah, trus kenapa kita kok banyak yang nggak kuat? Masak Tuhan kita bohong? Terbukti kita pun lari ke macam-macam: makanan berlemak, minuman manis2, minuman keras, jajan sembarangan, dugem, judi, selingkuh, bo'ongan, sombong, berkhianat, dll. Kita membunuh diri kita pelan-pelan!
Menurut pengamatan dan yang saya baca sich ada banyak sebab, namun ada 3 contoh penting yang menyebabkan kesedihan yang berlapis (boom trus membesar) dan membuat kita hampir terkapar (yang saya takutin kita berputus asa, awas haram hukumnya!! Bila tahu penyebabnya, cepat sadar dan trus bangkit):
Pertama, SERING MENUNDA-NUNDA PEMECAHAN MASALAH. Mungkin karena pakewuh, tapi ini fatal bener. Masalah pun jadi numpuk tinggi, nunggu roboh dan MELEDAK! Dimana pun Anda berada yang terdengar adalah luapan emosi jiwa. Menyedihkan. Nggak kuat!!!
Nggak usah masalah aja lah, contoh perkerjaan kantor kita yang paling ringan sekalipun akan jadi berat banget jika ditunda terus. Padahal atasan kita yakin kita mampu banget mengerjakannya. Atau Sholat yang cuma hitungan beberapa menit saja, jadi kayak jam-jaman bila ngaret terus. Paham!
Kedua, ENTENG DALAM MELAKUKAN DOSA. Padahal sebagai orang yang ngaku beriman itu berat banget konsekuensinya. Kita sudah bersumpah, maka hukumannya itu seketika. Nggak ada penundaan. Begitu berdosa, langsung deh kita terpukul keras....la kalo berulang-ulang berbuat dosa apa nggak remuk sampeyan!!
Tobaattt!!!!
Halaah, selingkuh yang katanyo nikmat bukan alang kepalang itu apa nggak membuat semuanya berantakan bila ketahuan. Istri tak lagi hormat kita pun sedih, mertua menghino kita pun sedih, anak melawan pun kita sedih, tetangga mencibir kita pun sedih. Nangis bener. Wong cuma selingkuh aja kok semuanya KOMPAK ngroyok kita!!! WkkkWkkkk (sambil brebes mili).
Ketiga, NGGAK PERCAYA KITA BISA DIKHIANATI. Sering kita kaget bukan main, hampir copot rasanya jantung kita, masak orang sebaik kita kok bisa dikhianati. Kita menolong mereka tulus ikhlas dari derita kemiskinan, bahkan mempekerjakan mereka tapi mereka kok tega menipu dan mencuri ya? Kita sudah mencintai mereka lebih dari siapapun tapi mereka tegel selingkuh, menginjak-nginjak harga diri kita. Mencaci maki kita! Kita sudah menganggap saudara kok mereka justru menohok kita dari belakang! Mempermalukan kita! Ada apa dengan mereka? Lupakah siapa mereka dulu? Dan kita pun lama banget bisa move on. Berbulan-bulan...sakiiit nya tuh di sini!!
Hayooo sudah lah.....tertawakan saja (nggak usah malu bila masih mewek). Berat memang. Nabi aja banyak dikhianati, dan bersyukur lah mereka sudah pergiiii jauh...ke laut aje!!! Minta lah pada Tuhanmu kekuatan, supaya Tuhan slalu melindungi kita atau jangan sampai terjadi pada kita:
"Ya Allah, ampuni lah dosa hambaMu ini!! Lindungilah hamba dan orang2 yang hamba sayangi. Kuatkan lah hamba sampai akhir hayat hambaMu ini dalam keadaan tetep beriman padaMu."
Aaamiiin.
Ket. Foto: Justru Inget Kegembiraan Pesta Durian Tahun Lalu.

You May Also Like

0 komentar